Santri Al-Multazam Dibekali Kesiapsiagaan Bencana, dari Mitigasi Gempa hingga Ancaman Gunung Ciremai

AL-MULTAZAM — SMPIT Al-Multazam menggelar Simulasi dan Pelatihan Mitigasi Bencana sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesiapsiagaan santri dalam menghadapi berbagai potensi bencana. Kegiatan yang berlangsung di Masjid Al-Multazam tersebut menghadirkan Yayan Indrayana, S.IP. dari BPBD Kabupaten Kuningan sebagai pemateri.

Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk membangun kesadaran bahwa kesiapsiagaan bencana bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi merupakan kemampuan yang perlu dimiliki seluruh lapisan masyarakat, termasuk lingkungan satuan pendidikan dan pesantren.

Screenshot

Dalam sambutannya, KH. Badrudin, Lc. menekankan pentingnya membangun keberanian dan kesiapan santri dalam menghadapi situasi darurat.

“Kita melatih keberanian santri agar siap siaga jika terjadi bencana, di manapun dan kapanpun.”

Pesan tersebut menjadi landasan kegiatan, bahwa keberanian dalam menghadapi bencana bukan berarti mengabaikan risiko, tetapi memahami ancaman, mengetahui langkah yang tepat, serta mampu mengambil keputusan secara cepat dan aman ketika kondisi darurat terjadi.

Mengenal Potensi Bencana di Kabupaten Kuningan

Dalam pemaparannya, Yayan Indrayana memberikan gambaran umum mengenai Kabupaten Kuningan beserta berbagai potensi ancaman bencana yang perlu diwaspadai masyarakat.

Peserta diperkenalkan dengan pengertian bencana, jenis-jenis bencana, serta berbagai ancaman yang dapat terjadi di lingkungan sekitar. Pemahaman tersebut menjadi dasar dalam membangun pola pikir masyarakat yang lebih siap menghadapi bencana.

Screenshot

Materi kemudian diarahkan pada siklus penanggulangan bencana, mulai dari upaya sebelum bencana, saat terjadi bencana, hingga tahapan setelah bencana. Penanganan bencana juga mengalami pergeseran paradigma, dari pendekatan yang sebelumnya lebih berorientasi pada respons setelah bencana menjadi pendekatan yang lebih menekankan pada pencegahan, kesiapsiagaan, pengurangan risiko, dan peningkatan ketangguhan masyarakat.

Dalam konteks tersebut, peserta mendapatkan pemahaman mengenai mitigasi bencana, yaitu berbagai upaya untuk mengurangi risiko dan dampak yang ditimbulkan oleh bencana.

Mitigasi tersebut dapat dilakukan melalui dua pendekatan, yakni mitigasi struktural dan mitigasi nonstruktural. Mitigasi struktural berkaitan dengan pembangunan atau penguatan sarana fisik yang dapat mengurangi risiko bencana, sedangkan mitigasi nonstruktural dilakukan melalui edukasi, peningkatan kapasitas, regulasi, perencanaan, dan peningkatan kesadaran masyarakat.

Tidak Hanya Teori, Santri Langsung Praktik Simulasi di Lapangan

Yang menjadi bagian penting dalam kegiatan ini adalah santri tidak hanya menerima materi secara teori, tetapi juga diajak untuk mengikuti pelatihan dan simulasi mitigasi bencana secara langsung di lapangan.

Setelah mendapatkan pemahaman mengenai berbagai jenis ancaman bencana dan langkah-langkah penyelamatan diri, seluruh santri terlibat dalam praktik simulasi untuk membiasakan diri menghadapi kondisi darurat secara nyata.

Melalui simulasi tersebut, para santri dilatih untuk memahami bagaimana harus bersikap ketika terjadi bencana, mulai dari mengenali situasi, menjaga ketenangan, melakukan tindakan penyelamatan diri, mengikuti arahan, hingga bergerak menuju titik kumpul melalui jalur evakuasi yang telah ditentukan.

Praktik lapangan ini menjadi bagian penting karena kesiapsiagaan bencana tidak cukup hanya dipahami melalui teori. Dalam kondisi darurat, seseorang dituntut untuk mampu bertindak secara cepat, tepat, dan terarah. Oleh karena itu, pengalaman melakukan simulasi diharapkan dapat membentuk refleks, keberanian, kedisiplinan, dan kesadaran keselamatan pada diri para santri.

Kegiatan simulasi juga memberikan pengalaman langsung kepada santri mengenai pentingnya tidak panik, saling membantu, memperhatikan keselamatan diri dan orang lain, serta mengikuti prosedur evakuasi ketika menghadapi keadaan darurat.

Dengan demikian, pelatihan ini tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga mengubah pengetahuan tersebut menjadi keterampilan praktis yang dapat diterapkan ketika menghadapi situasi bencana yang sebenarnya.

Mengenal Gempa Bumi dan Ancaman Gunung Ciremai

Salah satu materi yang mendapat perhatian adalah mengenai gempa bumi. Peserta diberikan pemahaman tentang pengertian gempa bumi, jenis-jenisnya, hingga skala intensitas gempa yang menggambarkan tingkat dampak atau guncangan yang dirasakan di suatu wilayah.

Pembahasan juga dikaitkan dengan kondisi Kabupaten Kuningan yang memiliki potensi ancaman kegempaan serta keberadaan Gunung Ciremai sebagai salah satu gunung api yang perlu mendapatkan perhatian dalam upaya kesiapsiagaan bencana.

Pemateri mengulas sejarah aktivitas dan letusan Gunung Ciremai, pembagian kawasan rawan bencana, serta pentingnya peningkatan kewaspadaan masyarakat berdasarkan tingkat aktivitas gunung api.

Pemahaman mengenai kawasan rawan bencana menjadi penting agar masyarakat mengetahui wilayah yang memiliki tingkat risiko berbeda dan dapat mengikuti arahan evakuasi maupun rekomendasi pihak berwenang apabila terjadi peningkatan aktivitas gunung api.

Mengenali Sesar dan Potensi Gempa di Kuningan

Tidak hanya membahas gunung api, pelatihan juga memperkenalkan peserta pada sesar, termasuk pengertian sesar dan tanda-tanda keberadaan sesar yang dapat dikenali di lapangan.

Peserta juga mendapatkan informasi mengenai sesar aktif di Kabupaten Kuningan serta sejarah kejadian gempa bumi yang pernah terjadi di wilayah tersebut.

Materi ini diharapkan dapat membuka wawasan peserta bahwa kesiapsiagaan tidak hanya diperlukan ketika terjadi bencana besar, tetapi harus dibangun sejak dini berdasarkan potensi ancaman yang terdapat di lingkungan masing-masing.

Satuan Pendidikan Aman Bencana

Bagian penting lainnya dalam pelatihan adalah pengenalan konsep Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB).

Satuan pendidikan memiliki posisi strategis dalam membangun budaya keselamatan karena sekolah dan pesantren merupakan tempat berkumpulnya banyak peserta didik dalam aktivitas sehari-hari. Oleh karena itu, lingkungan pendidikan perlu memiliki pengetahuan, sistem, serta prosedur yang jelas dalam menghadapi keadaan darurat.

Peserta diperkenalkan dengan tiga pilar SPAB, tujuan Satuan Pendidikan Aman Bencana, serta pentingnya penyusunan dan pemahaman peta jalur evakuasi di lingkungan sekolah atau pesantren.

Jalur evakuasi menjadi salah satu aspek penting agar warga satuan pendidikan tidak mengalami kebingungan ketika harus melakukan penyelamatan diri dalam kondisi darurat.

Pemahaman tersebut kemudian diperkuat melalui praktik simulasi di lapangan, sehingga santri tidak hanya mengetahui jalur evakuasi secara teori, tetapi juga mengalami secara langsung proses bergerak dari lokasi kegiatan menuju titik aman atau titik kumpul.

Memahami Golden Time untuk Menyelamatkan Diri

Pemateri juga memberikan pemahaman mengenai pentingnya golden time atau waktu kritis dalam penanganan bencana.

Dalam situasi darurat, kecepatan dalam mengenali ancaman, mengambil keputusan, mengikuti jalur evakuasi, serta melakukan tindakan penyelamatan dapat menjadi faktor penting dalam meningkatkan peluang keselamatan.

Karena itu, latihan dan simulasi secara berkala diperlukan agar respons terhadap bencana tidak hanya berdasarkan teori, tetapi dapat menjadi keterampilan yang terbentuk melalui pembiasaan.

Melalui praktik bersama, para santri juga belajar bahwa setiap detik memiliki nilai penting ketika menghadapi situasi darurat. Kedisiplinan mengikuti instruksi, tidak berdesakan, tetap tenang, serta membantu mereka yang membutuhkan menjadi bagian dari pembelajaran dalam simulasi tersebut.

Membangun Budaya Siap, Tanggap, dan Tangguh

Pada akhirnya, pelatihan mitigasi bencana tidak sekadar memberikan pengetahuan tentang gempa, gunung api, sesar, atau jenis bencana lainnya. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi sarana untuk membangun budaya kesiapsiagaan dan ketangguhan di lingkungan pesantren.

Perpaduan antara materi teori dan praktik simulasi di lapangan diharapkan membuat para santri memiliki pemahaman yang lebih utuh mengenai kesiapsiagaan bencana. Mereka tidak hanya mengetahui apa yang harus dilakukan, tetapi juga mendapatkan pengalaman untuk mempraktikkan langkah-langkah penyelamatan dalam situasi yang disimulasikan.

Filosofi penanggulangan bencana yang ditekankan adalah bahwa bencana merupakan urusan bersama. Setiap individu memiliki peran dalam mengurangi risiko, melindungi diri, membantu orang lain, dan membangun lingkungan yang lebih aman.

Bagi para santri, pengetahuan dan pengalaman tersebut diharapkan dapat menjadi bekal yang tidak hanya bermanfaat ketika berada di lingkungan pesantren, tetapi juga ketika berada di rumah, perjalanan, maupun di tengah masyarakat.

Dengan bekal pengetahuan, keberanian, keterampilan, dan pengalaman simulasi, santri diharapkan mampu menjadi generasi yang siap menghadapi bencana, tanggap dalam situasi darurat, serta peduli terhadap keselamatan sesama.

“Siap Menghadapi Bencana, Tanggap Menyelamatkan Sesama.”