Di Balik Jendela Pintu Kantor BK, Tersimpan Banyak Cerita

Saya merupakan Guru BK di sebuah sekolah SMP Islam Terpadu, ada satu hal sederhana yang justru sangat saya nikmati, yaitu mendengarkan cerita siswa saya. Saya senang ketika siswa datang dan mulai bercerita tentang apa pun yang mereka rasakan, pikirkan, atau alami. Kadang cerita mereka sederhana ya. Dan yaa mungkin bagi orang dewasa yang mendengarnya, itu bukan hal penting namun bagi saya cerita tetap berarti karena bagian dari terapi psikis, kadang juga penuh dengan hal-hal yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.

Bagi saya, setiap cerita punya makna dan setiap siswa punya dunia yang berbeda. Itulah yang membuat saya selalu tertarik untuk menggali lebih dalam tentang kehidupan mereka tanpa membeda-bedakan siswa.

Menariknya, setiap siswa memiliki cara yang berbeda dalam menyampaikan cerita. Ada di antara mereka yang introvert, khasnya lebih banyak diam, malu berbicara, bahkan membutuhkan waktu cukup lama untuk merasa nyaman. Juga ada siswa yang ekstrovert, mudah terbuka, penuh semangat, dan bisa bercerita panjang lebar tanpa harus banyak saya stimulasi. Menghadapi keduanya tentu menjadi tantangan tersendiri bagi saya.

Dari siswa yang pendiam, saya belajar untuk lebih sabar dan tidak memaksakan mereka bercerita. Dan disini lah letak ilmu psikologi saya yg harus saya keluarkan sebagai jurus pamungkasnya..yaitu psikodiagnostik sesuai kebutuhan siswa tersebut.

Sementara kepada siswa yang sangat terbuka, saya belajar menjadi pendengar yang baik, memahami setiap cerita, dan menangkap hal-hal penting di balik kata-kata mereka. Terkadang, bukan banyaknya pertanyaan yang membuat siswa terbuka, tetapi bagaimana kita membuat mereka merasa aman dan dihargai. Lalu dari situ bahkan menjadi clue selanjutnya untuk penanganan yang harus di follow up.

Saya tidak pernah menganggap siswa sebagai pribadi yang harus selalu sama dalam bersikap. Mereka datang dengan latar belakang, kebiasaan, perasaan, dan persoalan yang berbeda-beda, di situlah letak seninya.

Saya belajar ternyata tugas seorang guru BK bukan sekadar mendengarkan apa yang diucapkan siswa, tetapi juga berusaha memahami apa yang mungkin belum mampu mereka ungkapkan. Saya juga percaya, terkadang siswa tidak selalu membutuhkan jawaban atau nasihat yang panjang dari mulut saya.

Tapi mereka hanya membutuhkan seseorang yang bersedia dan siap mendengarkan tanpa buru-buru menghakimi. Dan saya bersyukur bisa menjalani profesi yang memberi kesempatan untuk belajar memahami manusia melalui cerita-cerita siswa-siswa saya

Hikmah ketika menjadi Guru BK yang saya alami, diantaranya:

  • Setiap anak memiliki cerita versinya sendiri
  • Mendengarkan adalah bentuk kepedulian dan bagian dari terapi psikis
  • Kesabaran adalah kunci memahami siswa. Tidak semua anak bisa terbuka dalam waktu yang sama.
  • Perbedaan karakter sebuah keunikan dan keindahan buat saya.
  • Guru BK juga terus belajar. Dari cerita siswa, saya belajar tentang kehidupan, kesabaran, empati, dan memahami manusia lebih dari biasanya

Oleh: Eha Nurhayati, S.Psi