Koding, Sahabat Baru Para Pendidik

Saya seorang guru yang hanya bisa mengajarkan anak untuk memahami materi ajar dan bisa mengerjakan pertanyaan-pertanyaan dan menyelesaikan tugas dengan dateline yang saya tentukan. Saya melihat betapa banyak waktu guru dan tim sekolah terkuras untuk pekerjaan yang berulang.

Menyalin data dari satu tabel ke tabel lain, mencocokkan catatan, menghitung ulang rekap dan dalam keseharian di sekolah dipenuhi hal-hal yang sangat membumi: rekap absensi, daftar nilai, tugas dan tumpukan data yang harus dirapikan sebelum tenggat. Ketika ada pemeriksaan oleh kepala sekolah terkait nilai maka guru-guru mencarinya di lembaran-lembaran yang terpisah pisah, ini hal yang paling menyebalkan apalagi jika ada berkas yang hilang atau kertas yang rusak terkena air hingga tulisannya memudar.

Pekerjaan itu penting, tetapi melelahkan, dan sering menyita energi yang semestinya bisa dicurahkan untuk santri. Setelah adanya pengembagan guru untuk melek dengan digitalisasi koding menjadi sebuah gagasan yang bagus untuk dipelajari dan saya mulai berpikir “sepertinya ini solusi untuk masalah-masalah disekolah selama ini” dulu saya mengira koding adalah dunia yang jauh dari ruang guru.

Dunia para programmer, layar gelap penuh barisan huruf, dan bahasa yang asing di telinga. Semuanya bermula dari satu keresahan kecil. Dari situ muncul pertanyaan sederhana: adakah cara agar koding yang mengerjakan bagian yang membosankan ini?

Jawabannya saya temukan lewat Google Spreadsheet dan Google Apps Script, platform pemrograman gratis dari Google yang dokumentasi resminya terbuka untuk siapa saja. Langkah pertama terasa canggung. Saya menulis beberapa baris kode, menjalankannya, lalu menatap pesan galat berwarna merah. Berkali-kali. Ada malam ketika saya nyaris menyerah karena satu tanda kurung yang salah tempat.

Namun setiap galat ternyata membawa pelajaran. Perlahan saya sadar bahwa koding mirip dengan mengajar: ia menuntut kesabaran, ketelitian, dan keberanian untuk mengulang dari awal.
Satu per satu aplikasi lahir dari kebutuhan nyata di sekolah. Ada aplikasi absensi kehadiran santri, penilaian berbasis web, sistem ujian online untuk santri study club dan Ada aplikasi laporan perkembangan santri, hingga galeri tempat karya-karya santri bisa dipamerkan.

Pekerjaan yang dulu menghabiskan berjam-jam kini selesai dalam hitungan menit. Waktu yang terselamatkan itu kembali kepada hal yang paling berharga: berbincang dengan santri, membimbing, dan memperhatikan mereka satu per satu.

Namun pengalaman yang paling membahagiakan justru datang dari game edukasi Bahasa Arab. Saya membuat permainan sederhana, seperti game mario berpetualang, tarik tambang, tembak balon, dan panjat pinang, yang setiap langkahnya dibungkus dengan kuis kosakata. Santri yang biasanya jenuh menghafal tiba-tiba bersemangat.

Mereka bersaing, tertawa, bahkan meminta mengulang karena ingin menang. Mereka tidak sadar sedang belajar. Di titik itu saya mengerti bahwa teknologi dalam pendidikan bukan soal kecanggihan, melainkan soal membuat belajar terasa menyenangkan.

Mengapa saya menyebut koding sebagai sahabat? Karena ia memiliki sifat-sifat seorang sahabat yang baik. Ia sabar, tidak pernah lelah mengerjakan tugas yang sama seribu kali. Ia jujur, selalu menunjukkan dengan terang di mana letak kesalahan kita. Ia menemani kita tumbuh, karena setiap masalah yang terpecahkan membuka masalah berikutnya yang lebih menantang. Dan ia meringankan beban, tanpa pernah meminta balasan.

Meski begitu, saya ingin meluruskan satu hal. Koding tidak menggantikan guru. Tidak ada kode yang mampu menggantikan nasihat yang disampaikan dengan tulus, teladan yang dilihat setiap hari, atau doa seorang guru untuk muridnya.

Koding hanyalah alat. Ia berharga justru karena membebaskan kita dari urusan teknis agar lebih banyak waktu tersisa untuk urusan hati. Karena itu, setiap kali menulis kode, saya berusaha meluruskan niat: bahwa ini bukan untuk pamer kemampuan atau ingin dipuji atasan, melainkan bentuk pengabdian.

Saya ingat dengan hadits Rasulullah ﷺ bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain” (HR. Ath-Thabrani). Jika baris-baris kode yang saya tulis bisa meringankan kerja seorang rekan atau membuat seorang santri lebih semangat belajar, maka itulah kebermanfaatan yang saya cari.

Untuk rekan-rekan sesama pendidik yang mungkin masih ragu, izinkan saya berbagi satu pesan. Anda tidak perlu menjadi ahli untuk memulai. Mulailah dari satu masalah kecil yang paling sering membuat Anda menghela napas. Cari tahu cara menyelesaikannya, jatuh, bangun, lalu coba lagi. Di tengah perjalanan itu, Anda akan menemukan bahwa koding bukan makhluk asing yang menakutkan. Ia adalah sahabat baru yang siap menemani pengabdian kita di dunia pendidikan.

Oleh: Irpan Komarudin, S.Pd