Miss, Aku Mau Ngumpulin Tugas Video!

Sebagai seorang tenaga pengajar tentunya membuat kita bertemu dengan beragam karakter anak. Ada yang selalu bersemangat dari awal pembelajaran, ada yang aktif bertanya dengan ragam pertanyaannya, ada yang dengan mudah memahami materi, namun ada juga yang menunjukkan kurangnya semangat belajar sehingga membutuhkan perhatian dan pendekatan lebih dari kita.

Ada satu pengalaman yang paling menantang selama saya menjadi seorang tenaga pengajar di SMPIT Al-Multazam, khususnya mendampingi santri kelas 7. Pengalaman tentang seorang anak yang awalnya begitu sulit untuk diajak belajar Bahasa Inggris dengan banyaknya penolakan dari dirinya.

Setiap saya masuk kelas anak tersebut, anak tersebut terkadang sudah dalam posisi tidur, bahkan tak jarang pula mood anak tersebut sudah berantakan sebelum pembelajaran dimulai. Ketika saya mengajaknya belajar, dia sering menolak. Kalimat “ga mau”, “pusing” tak jarang saya dengar. Jujur situasi tersebut membuat saya geleng-geleng kepala sampai menghela nafas saking gemasnya.

Sebagai guru Bahasa Inggris tentu saya punya harapan sederhana untuk anak-anak dapat berkomunikasi menggunakan bahasa asing. Sehingga suatu hari saya ubah pendekatan saya secara lebih personal lagi kepada anak tersebut. Saya berusaha mencari latar belakangnya mulai dari gaya belajarnya, kebiasaan belajar sebelumnya saat di SD ataupun di rumah, kesukaannya, berusaha memahami suasana hatinya, dan hal lainnya dengan komunikasi yang lebih santai dan memberikan kesempatan untuk belajar dengan cara yang lebih menyenangkan.

Hari demi hari berlalu, saya melihat adanya perubahan pada anak tersebut. Seorang anak yang dulunya tidak suka belajar Bahasa Inggris, mulai menujukkan kemauan dan daya tariknya. Bahkan yang paling berkesan, saat bertemu dengannya di jalan, ia mengatakan sesuatu yang membuat saya tersenyum “Miss aku mau kirim tugas video”. Sungguh kalimat yang mungkin bagi orang lain itu biasa, tapi bagi saya kalimat itu memiliki makna yang begitu besar bagi saya, ada rasa bahagia yang hadir dalam hati saya.

Dari pengalaman tersebut, saya belajar bahwa kebahagiaan seorang tenaga pengajar tidak datang dari perolehan nilai anak-anak yang tinggi, prestasi yang membanggakan, tetapi kebahagiaan itu hadir dari perubahan kecil seorang anak yang mau mencoba hal yang sebelumnya sangat ia hindari. Selain itu, saya juga belajar bahwa setiap anak memiliki waktu untuk bertumbuh yang perlu terus kita dampingi dengan sepenuh hati dan dengan cara yang tak sama. Sebagai tenaga pengajar kita pun jangan mudah menyerah jika menemukan hal-hal yang penuh tantangan. Bagi saya, justru itulah kesempatan untuk kita menjadi mata air kebaikan melalui percikan ilmu dan tutur kata (motivasi) bagi anak-anak didik kita.

Oleh: Nanin Nurul Aeni, S.Pd