Dari Layar Sekolah Mengajarkan Teknologi, Menanamkan Makna
Menjadi tenaga pengajar teknologi di Ponpes Terpadu Al-Multazam, khususnya mendampingi peserta didik kelas IX, memberikan banyak pengalaman yang tidak selalu bisa ditemukan dalam buku pelajaran. Ada banyak cerita menarik, mulai dari menghadapi peserta didik yang sangat antusias dengan teknologi, membantu mereka memahami hal-hal baru, hingga menyaksikan perkembangan kemampuan dan karakter mereka dari waktu ke waktu.

Salah satu pengalaman yang paling berkesan bagi saya adalah ketika mendampingi peserta didik kelas IX dalam kegiatan pembelajaran berbasis teknologi. Di kelas, saya sering menemukan beragam karakter. Ada yang begitu cepat memahami materi, ada yang harus mencoba berkali-kali, ada pula yang awalnya merasa tidak mampu sebelum akhirnya berhasil menyelesaikan tugasnya.
Saya masih sering teringat bagaimana beberapa peserta didik yang awalnya kesulitan menggunakan aplikasi, mengolah informasi, atau membuat sebuah karya digital, perlahan mulai menunjukkan kemampuannya. Tidak jarang mereka bertanya berulang kali, melakukan kesalahan, bahkan merasa frustrasi ketika hasil pekerjaannya tidak sesuai harapan. Namun, justru dari proses itulah saya melihat sesuatu yang berharga.
Ada satu hal yang selalu membuat saya tersenyum: terkadang peserta didik yang awalnya mengatakan, “Pak, saya tidak bisa,” justru menjadi orang yang paling bersemangat ketika berhasil menyelesaikan pekerjaannya. Ekspresi bahagia dan rasa bangga mereka ketika menunjukkan hasil karyanya menjadi kepuasan tersendiri bagi saya.
Mengajar kelas IX juga memiliki cerita emosional yang berbeda. Saya menyadari bahwa waktu kebersamaan di kelas tidak akan berlangsung selamanya. Mereka sedang berada di penghujung masa belajar di jenjang SMP. Di balik kesibukan menyampaikan materi, menyelesaikan tugas, mengingatkan kedisiplinan, dan sesekali menegur, ada kesadaran bahwa suatu saat mereka akan melanjutkan perjalanan ke tempat yang berbeda.
Dari situ saya memahami bahwa tugas saya bukan sekadar mengajarkan teknologi, mengenalkan aplikasi, atau memastikan mereka mampu mengoperasikan perangkat digital. Lebih dari itu, saya ingin mereka memiliki bekal untuk menghadapi kehidupan yang semakin berkembang, mampu menggunakan teknologi secara bijak, serta tetap menjaga nilai-nilai akhlak dan tanggung jawab.
Bagi saya, pengalaman paling berkesan bukanlah ketika peserta didik mendapatkan nilai tinggi atau berhasil menyelesaikan sebuah proyek dengan sempurna. Justru kebahagiaan terbesar adalah ketika melihat mereka yang awalnya tidak bisa, akhirnya mampu; yang awalnya ragu, menjadi percaya diri; dan yang awalnya hanya mengikuti instruksi, mulai berani berpikir serta menghasilkan karya sendiri.
Dari berbagai pengalaman tersebut, saya belajar bahwa setiap peserta didik memiliki proses dan kecepatan belajar yang berbeda. Tidak semua anak bisa memahami sesuatu dalam sekali penjelasan. Ada yang membutuhkan pendampingan lebih, ada yang perlu diberikan kesempatan untuk mencoba sendiri, dan ada pula yang hanya membutuhkan sedikit kepercayaan agar berani menunjukkan kemampuannya.
Saya semakin menyadari bahwa menjadi tenaga pengajar bukan hanya tentang seberapa banyak materi yang berhasil disampaikan, tetapi juga tentang seberapa besar kita mampu membantu seseorang bertumbuh.
Teknologi boleh terus berubah. Perangkat semakin canggih, aplikasi semakin beragam, dan informasi semakin mudah diperoleh. Namun, ada hal yang tidak boleh tertinggal, yaitu karakter, kejujuran, tanggung jawab, kesungguhan, dan adab dalam menggunakan ilmu.
Saya juga belajar bahwa kesabaran merupakan bagian penting dari pendidikan. Terkadang hasil dari apa yang kita ajarkan tidak langsung terlihat hari ini. Bisa jadi apa yang kita sampaikan baru benar-benar dipahami dan dirasakan manfaatnya beberapa tahun kemudian, ketika mereka menghadapi persoalan dalam kehidupannya.
Ada satu keyakinan yang semakin kuat saya pegang: seorang tenaga pengajar mungkin tidak selalu mengetahui sejauh mana pengaruh perkataannya terhadap peserta didik. Namun, satu nasihat sederhana, satu kesempatan yang diberikan, atau satu bentuk kepercayaan yang ditunjukkan bisa menjadi sesuatu yang mereka ingat sepanjang perjalanan hidupnya.
Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan bukan hanya tentang mencetak peserta didik yang cerdas menggunakan teknologi, tetapi juga membentuk manusia yang mampu menggunakan kecerdasannya untuk hal-hal yang bermanfaat.
Saya berharap, ketika suatu hari nanti peserta didik kelas IX meninggalkan bangku SMP dan melanjutkan perjalanan mereka, ada sedikit ilmu, pengalaman, atau nasihat dari saya yang tetap mereka ingat. Sebab bagi saya, ilmu yang baik bukan hanya ilmu yang dipahami saat belajar, melainkan ilmu yang terus memberikan manfaat setelah proses belajar itu berakhir.
Oleh: Eka Sukmana, M.Pd

