Menyusun Baris Kode, Merangkai Karakter Cerita dari Balik Layar Lab Komputer
Salah satu pengalaman paling berkesan dan menantang bagi saya adalah ketika pertama kali memandu santri membongkar logika coding visual di lab komputer. Di awal pembelajaran, tidak sedikit santri yang mengernyitkan dahi, merasa bingung, bahkan pasrah sambil berkata, “Pak, sulit banget, logika saya tidak sampai.” Logika pemrograman yang menuntut ketelitian di mana satu blok perintah yang salah bisa membuat seluruh sistem atau animasi tidak berjalan menjadi tantangan tersendiri bagi mereka.
Namun, momen haru dan membanggakan terjadi ketika mereka tidak menyerah. Momen ketika alur script yang rumit itu akhirnya berhasil dijalankan, lalu layar menampilkan hasil sesuai rancangan mereka. Senyum puas, sorak kegirangan, dan rasa percaya diri yang tiba-tiba tumbuh saat mereka menyadari bahwa mereka mampu menciptakan sesuatu dari nol adalah kepuasan luar biasa yang tidak bisa dinilai dengan angka.

Dari proses belajar coding ini, saya mengambil pelajaran bahwa mengajar teknologi bukan sekadar transfer ilmu cara mengoperasikan perangkat atau menyusun baris kode. Lebih dari itu, coding adalah media untuk melatih pola pikir (computational thinking), ketangguhan diri (resilience), dan keberanian untuk belajar dari kesalahan (error).
Setiap error dalam baris kode mengajarkan bahwa kegagalan bukanlah akhir, melainkan petunjuk untuk mencari solusi yang lebih tepat. Hal ini juga mengingatkan saya sebagai pengajar untuk selalu bersabar, memberikan kepercayaan, dan terus mendampingi proses bertumbuh setiap santri sesuai dengan kecepatan belajarnya masing-masing.
Oleh: Eman Sulaeman, M.Ti

