Perjalanan menumbuhkan Cinta Belajar

Di awal tahun ajaran 2025/2026, SMPIT Al-Multazam menyelenggarakan matrikulasi bahasa inggris untuk santri kelas 7 bersama Mr. Imron. Beliau merupakan pengajar bahasa inggris di Kampung Pare. Tentunya, mendengar latar belakang beliau, tidak sedikit santri yang menaruh antusiasme yang tinggi dalam pembelajaran bersama beliau. Beliau membawa cara dan metode yang menarik untuk dipelajari, mulai dari drilling kosa kata, percakapan, dan grammar.

Kegiatan tersebut tidak hanya menarik perhatian dan minat santri kelas 7, seluruh guru bahasa inggris SMP dan SMA turut antusias mengikuti dan mempelajari metode beliau. Tak terkecuali saya, Ira Yuliani, yang biasa dipanggil Ms. Ira oleh santri SMPIT Al-Multazam. Saya dan rekan guru lainnya, secara bergantian mengikuti kelas beliau, mengamati dan tak jarang ikut berpartisipasi sebagai peserta.

Suatu ketika, saat masa pengamatan tersebut, ada satu hal yang menarik perhatian saya, namun itu bukan dari Mr. Imron, melainkan dari salah satu santri kelas 7. Ada satu santri berpostur tinggi, badannya langsing dan ia mengenakan kacamata. Raut wajahnya tampak seperti kesakitan. Ternyata ia mengeluhkan sakit kaki sehingga ia tidak bisa mengikuti pembelajaran bersama Mr. Imron.

Hari berikutnya, saya temukan hal yang sama, sosok yang enggan ikut adalah orang yang sama. Namun kali ini, ia terlihat murung, ia menangis dan benar-benar tidak mau ikut belajar. Sampai satu saat ketikan pelaksanaan praktek “jual beli” menggunakan bahasa Inggris. Ia benar-benar terlihat tidak tertarik, sangat kontras dengan teman-teman lainnya.

Setelah matrikulasi selesai, ternyata saya adalah guru bahasa inggris di kelasnya. Ia bercerita bahwa ia benci bahasa inggris, ia tidak suka bahasa inggris karena tidak pernah belajar bahasa inggris ketika di SD.

Hal tersebut membuat saya tertantang untuk membuat ia mau menerima atau setidaknya mulai mau mengikuti pelajaran bahasa inggris. Saya beri semua perhatian saya pada dia di setiap pelajaran, saya coba buatkan games dan metode yang manarik sampai akhirnya saya juga berikan jam pelajaran tambahan sepulang sekolah.

Akhirnya setelah perjalanan panjang tersebut, di akhir semester ia mulai menampakkan wajah yang ceria, mulai muncul simpul indah di wajahnya, ia tersenyum. Dan ia mulai bisa mengikuti pelajaran bahasa inggris dengan bahagia.

Observasi pembelajaran bersama Mr. Imron membuka mata saya bahwa masa observasi sebagai seorang guru tidak hanya terfokus pada materi dan metode, tetapi meluas ke santri dll.

Sebuah tantangan akan membuat saya sebagai guru lebih kreatif dalam menyiapkan pembelajaran.

Oleh: Ira Yuliani, S.Pd, Gr